Jumat, 22 Juli 2011

Pemberdayaan Masyarakat

UPAYA MENCETAK TENAGA DENGAN SKILL MEMADAI DAN MERANGSANG SEMANGAT WIRAUSAHA

PATI. Tambaharjo
Meskipun sedikit terlambat untuk melaksanakan kegiatan penyerapan dana BLM tahap III 2008 yang alokasinya untuk kegiatan social dan infrastruktur, BKM Tambah Makmur Desa Tambaharjo akhirnya berhasil juga menyelesaikan persyaratan administratif berupa penyusunan proposal untuk memanfaatkan dana alokasi sosial. Sedianya, dana BLM tahap III tahun 2008 tersebut telah cair ke rekening BKM pada Nopember 2009 dan seharusnya telah dimanfaatkan. Keterlambatan pemanfaatan disebabkan BKM dalam masa transisi setelah pelaksanaan Pemilihan Ulang anggota Pimpinan Kolektif. Anggota-anggota baru yang terpilih ternyata adalah orang-orang dengan tingkat kesibukan lumayan tinggi, karenanya pemanfaatan dana BLM agak terhambat. Untuk mengatasinya, tim fasilitator berusaha mendorong para anggota BKM untuk melakukan koordinasi. Dalam hal ini, tim fasilitator mendapat dukungan penuh dari pihak Pemerintah Desa Tambaharjo. Akhirnya, BKM menyadari bahwa meskipun kegiatan-kegiatan dalam PNPM – MP bersifat kerelawanan, namun bukan berarti bisa diabaikan dan dianggap remeh. Kegiatan yang difasilitasi oleh PNPM merupakan kegiatan pemberdayaan yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berproses bersama dan pada akhirnya diharapkan kelak akan membawa desa mereka ke tataran desa yang mandiri – bahkan mungkin sampai tataran madani.
Akhirnya, para anggota BKM dan tim fasilitator sepakat untuk terjun langsung bersama UPS untuk fasilitasi pembentukan KSM, penyusunan RAB (Rencana Anggaran Biaya) hingga pembuatan proposal. Sesuai dengan data matriks kebutuhan di PJM Pronangkis, BKM menetapkan bahwa untuk alokasi dana sosial tahun 2008 akan dimanfaatkan untuk kegiatan pelatihan menjahit dan kegiatan pelatihan bengkel motor. BKM mensosialisasikan adanya alokasi social ini kepada masyarakat desa Tambaharjo baik melalui kegiatan pelatihan relawan, BKM, UP-UP maupun KSM yang didanai fixed cost maupun melalui pertemuan RT yang rutin diadakan oleh masyarakat. Setelah mendapatkan sosialisasi, masyarakat membentuk KSM yang anggotanya bersifat umum untuk satu desa.
Peserta pelatihan menjahit ini berjumlah 14 orang. Semuanya perempuan. Sebagian ada yang sudah menikah dan selama ini sibuk menjadi ibu rumah tangga, sebagian lainnya merupakan lulusan SMP dan SMA yang masih menganggur dan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Diharapkan dengan mengikuti pelatihan menjahit ini, mereka akan memiliki ketrampilan/skill yang bermanfaat untuk menambah penghasilan keluarga dengan membuka usaha jahit. Selain mempersiapkan tenaga yang memiliki skill menjahit, kegiatan pelatihan ini diharapkan akan menumbuhkan jiwa kewirausahaan.
“Ini kesempatan emas buat panjenengan sekalian untuk menimba ilmu dan kemudian mempraktikkannya langsung di masyarakat. Misalnya, dengan membuka usaha menjahit atau konveksi. Pelatihannya gratis, panjenengan ndak perlu bayar. Bahan-bahan juga disediakan. Yang perlu panjenengan berikan hanyalah waktu luang dan tekad untuk mengubah kehidupan panjenengan….” Demikian disampaikan Kepala Desa tambaharjo – Bapak Mubaligh, S.Pd. – pada acara pembukaan pelatihan menjahit di balai desa pada tanggal 1 Pebruari 2010.
Pada kesempatan tersebut, sekali lagi para peserta ditantang kembali kesanggupannya untuk mengikuti pelatihan dan tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan membolos. Para peserta menyatakan akan serius dan bahkan merasa sangat beruntung bisa mengikuti pelatihan semacam ini. Antusiasme peserta pelatihan menjahit semakin bertambah ketika ketua KSM “PUTRI MANDIRI” yang sekaligus sebagai instruktur pelatihan, Bu Sri Cahyani, didatangi warga lain yang merasa menyesal karena terlambat mendaftarkan diri. Semula beberapa warga masih apatis dan menganggap kegiatan pelatihan tersebut hanya formalitas. Namun, setelah mereka melihat pelaksanaan kegiatan yang ditangani secara professional dan dilatih oleh tenaga professional yang telah seringkali memberikan pelatihan sampai ke kecamatan lain, barulah mereka merasa menyesal. Dari banyaknya usulan yang masuk ke BKM tersebut, BKM menyimpulkan bahwa masih banyak warga desa Tambaharjo yang berharap kegiatan pelatihan menjahit ini bisa diadakan lagi ke depannya, karena dinilai cukup potensial untuk persiapan membuka usaha secara mandiri.
“Saya sampai bingung, Mbak, menghadapi warga yang ingin mengikuti pelatihan menjahit susulan. Saya jelaskan saja bahwa kalau pesertanya banyak, malah tidak efektif. Saya biasanya kalau melatih seperti ini, maksimal dua puluh orang saja. Ndak pernah lebih.” Cerita Bu Sri Cahyati.
Menghadapi hal semacam itu, para anggota BKM “TAMBAH MAKMUR” berusaha memfasilitasi usulan pengadaan pelatihan menjahit untuk dimasukkan sebagai bagian kegiatan sosial di PJM Pronangkis tahun 2010 – 2012. Salah seorang anggota BKM yang intens melakukan pendampingan kegiatan pelatihan, H.M. Suharto, menyatakan bahwa pelatihan ini merupakan upaya awal BKM Tambaharjo untuk mencetak tenaga-tenaga terampil di desa Tambaharjo. Kalau kelak ada alokasi kegiatan sosial lagi, BKM akan memanfaatkannya untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat produktif dan kemanfaatannya lebih bersifat jangka panjang.
Pelatihan menjahit yang direncanakan selama delapan minggu ini dirancang dengan sistem teori – praktik. Pada minggu pertama, peserta diberikan teori dan belajar membuat pola untuk menjahit rok dengan berbagai modifikasi model. Para minggu berikutnya, peserta langsung praktik menjahit rok. Setelah peserta fasih, pelatih memberikan teori untuk menjahit baju blus dengan berbagai modifikasi model jahitan dan kerah. Saking banyaknya model blus, praktik menjahitnya lebih lama lagi, sekitar tiga minggu. Itu masih ditambah dengan praktik menjahit kemeja. Terakhir, peserta diajari cara membuat celana panjang.
“Praktik membuat blus sengaja kami berikan di tengah, sebab menjahit blus memang paling sulit dan modelnya juga paling variatif sehingga kalau kami berikan di awal, peserta akan merasa berat untuk mencernanya. Rok relatif lebih mudah. Sedangkan membuat celana lebih mudah lagi, jadi diberikan di belakang saja. Untuk praktik, peserta diperkenankan untuk menjahit pakaian sesuai ukuran tubuhnya masing-masing.” papar Bu Sri Cahyani, ketua KSM “PUTRI MANDIRI” sekaligus instruktur menjahit dengan runtut.
Pelatihan menjahit ini mendapat alokasi dana BLM PNPM – MP sebesar Rp. 9.625.000,- dan swadaya sebesar Rp.3.830.000,- sehingga total pendanaan untuk KSM “PUTRI MANDIRI” ini sebesar Rp. 13.455.000,- untuk kegiatan selama delapan minggu. Setiap hari Jum’at, kegiatan pelatihan menjahit libur. Alokasi dana sebesar itu selain digunakan untuk memberi insentif untuk pelatih, juga untuk sewa mesin jahit dan penyediaan bahan-bahan menjahit seperti kain, benang, jarum, kertas dorslag, buku dan sebagainya.
“Peserta perlu mengembangkan sendiri ketrampilan menjahitnya di luar kelas agar hasilnya maksimal. Karena yang diajarkan di kelas masih bersifat dasar-dasarnya saja. Jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan berbusana masyarakat yang  sudah macam-macam modelnya. Mereka (para peserta) juga harus rajin berlatih di rumahnya masing-masing. Kalau ditelateni dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin kelak Tambaharjo ini akan memiliki tenaga terampil yang mampu memajukan desa. Kali ini pelatihan menjahit dan bengkel motor, mungkin besok-besok, kita juga perlu mengadakan pelatihan lainnya. Biar kalau bisa Tambaharjo ini memiliki semua sumber daya yang terampil di bidangnya masing-masing…” ujar Bapak Suharto dengan yakin. 
Tim fasilitator dengan sepenuh hati mengamini doa tersebut. Sebab, bagi fasilitator, tidak ada yang lebih membahagiakan dari kegiatan pemberdayaan dan pendampingan yang telah dilakukan, selain melihat masyarakat dampingannya menjadi masyarakat yang lebih baik lagi dan lebih sejahtera hidupnya. Semoga kelak, masyarakat Desa Tambaharjo ebnar-benar tambah makmur. Sesuai dengan nama BKMnya, BKM “TAMBAH MAKMUR”. (akar_atya. 15 Nopember 2010)

Ditulis untuk artikel Best Practice Kegiatan Sosial Kegiatan pendampingan masyarakat. Juga dapat diakses di web pnpm-mp KMW Prov. Jawa Tengah.

Sosok

MBAH NGATIMIN, GURU PARA PEMBERDAYA DI KELURAHAN PATI LOR
Sosoknya begitu bersahaja, humoris dan dekat dengan masyarakat Kelurahan Pati Lor. Nama lengkap beliau Hiebertus Ngatimin Pujowinoto, biasa disapa Mbah Ngatimin oleh warga Pati Lor. Hampir seluruh warga mengenal beliau dengan baik. Terlebih lagi, aktivitas kemasyarakatan Mbah Ngatimin yang sangat padat dan menyentuh level bawah masyarakat Pati Lor.
Terlahir sebagai priyayi Jogjakarta pada 5 September 1941, Mbah Ngatimin beserta keempat anak dan istri hijrah ke Pati pada tahun 1963. Pada tahun tersebut, Mbah Ngatimin mengabdi sebagai guru PNS di SMP N 4 PATI.
Setelah tujuh tahun menetap di RT. 06/RW. III Dukuh Randukuning Kelurahan Pati Lor, Mbah Ngatimin didaulat oleh warga RT untuk menjadi  ketua RT mereka. Hal itu dikarenakan sosok Mbah Ngatimin yang komunikatif dengan warga RT serta kedekatan beliau dengan pemerintah kelurahan. Sehingga diharapkan Mbah Ngatimin akan mampu menjembatani aspirasi warga RT dengan pemerintah kelurahan. Sampai sekarang, warga masih mempercayakan posisi ketua RT kepada Mbah Ngatimin.
Selain itu, Mbah Ngatimin juga menjadi ketua kelompok budidaya Lele di Desa Mustokoharjo – sekitar 5 KM dari Pati Lor. Ketika ditanya mengapa malah menjadi ketua kelompok budidaya lele di desa lain, dengan nada bercanda Mbah ngatimin menjawab bahwa itu dikarenakan di Kelurahan Pati Lor ini tidak ada lahan untuk tambak lele. Akhirnya, beliau menyewa lahan seluas 10 m x 10 m untuk beternak lele di Desa Mustokoharjo. Dari hasil budidaya lele dan ditunjang gaji sebagai PNS inilah, Mbah Ngatimin menghidupi istri keempat anaknya hingga keempatnya sekarang berhasil sukses dan bekerja di beberapa kota besar di Indonesia.
Setelah pensiun pada tahun 2001, Mbah Ngatimin tetap sibuk dengan aktivitas sosial kemasyarakatannya sebagai ketua RT dan peternak lele. Kakek delapan cucu ini memang tidak suka berpangku tangan dan bersantai-santai di rumah. Beliau sangat senang beraktivitas dan bekerja. Ketika pada tahun 2002 Kelurahan Pati Lor mendapatkan program P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan), Mbah Ngatimin langsung mendaftarkan diri sebagai relawan P2KP.
Mbah Ngatimin beserta para relawan lainnya membantu tim fasilitator melakukan sosialisasi ke warga mulai dari pertemuan di tingkat RT hingga memfasilitasi pertemuan di tingkat kelurahan. Mbah Ngatimin juga berperan aktif dalam proses pemilihan anggota BKM “MEKARSARI” Kelurahan Pati Lor periode awal masa bakti 2003 – 2005. Karena jasa-jasa dan melihat keaktifan beliau selama mengawal P2KP inilah, BKM yang baru terpilih dan Pemerintah Kelurahan sepakat mengangkat Mbah Ngatimin sebagai Sekretaris BKM “MEKARSARI”.
Sepak terjang Mbah Ngatimin untuk menghidupkan BKM “MEKARSARI” patut diacungi jempol. Bahkan, bisa dikatakan bahwa tanpa Mbah Ngatimin, BKM “MEKARSARI” akan keteteran untuk menyelesaikan seluruh dokumen administrasi program P2KP. Masa-masa perjuangan ‘babat alas’ P2KP di Kelurahan Pati Lor merupakan masa yang cukup sulit bagi masyarakat untuk menyesuaikan dengan program. Sebab P2KP memang masih sangat baru bagi masyarakat. Terlebih lagi, dari sisi administrasi pelaporan, P2KP sangat rumit. Jika saja tidak ada sosok panutan yang peduli dan gigih memperjuangkan kelangsungan program ini, bisa jadi saat ini warga Pati Lor akan kesulitan menyelaraskan diri dengan program. Mbah Ngatimin dengan gigih membantu administrasi kelengkapan dokumen di BKM Pati Lor. Tidak segan-segan beliau mendatangi posko tim fasilitator untuk menanyakan format-format bantu yang harus diselesaikan BKM “MEKARSARI” dan warga Pati Lor. Mulai dari format Refleksi Kemiskinan, Pemetaan Swadaya, proses pembuatan PJM Pronangkis, format untuk pelaksanaan pemilihan BKM baik tingkat RT maupun tingkat kelurahan. Selain itu, selaku Sekretaris BKM, Mbah Ngatimin juga harus menyelesaikan pembukuan sekretariat yang cukup menguras tenaga beliau. Namun, semua itu dilakukan Mbah Ngatimin dengan sukarela dan senantiasa canda mengiringi beliau bekerja.
Mbah Ngatimin berpendapat bahwa P2KP (sekarang PNPM) merupakan program yang sangat bagus sebab berusaha menumbuhkan kesadaran masyarakat dan pelibatan mereka secara aktif sebagai relawan. Namun demikian, seyogyanya program juga harus realistis dan lebih menghargai relawan yang ada. Terlalu menuntut relawan untuk melakukan serangkaian kegiatan dan menyelesaikan administrasi yang sangat menguras tenaga juga dianggap kurang bijaksana. Terlebih lagi bila instruksi dari atas datang mendadak dan memberikan target waktu yang sangat mepet. Bukannya melecut relawan untuk lebih semangat, malah bisa-bisa relawan yang ada akan kabur dan tak mau lagi terlibat di program ini.
“Idealnya, orang-orang yang duduk di BKM dan perangkat BKM itu sudah tercukupi kebutuhan keluarganya sehingga mereka akan lebih fokus. Sebab ini kegiatan sosial, tanpa ada imbalan uang atau dalam bentuk apapun. Kalau 60% waktu kita digunakan untuk mengurusi kegiatan sosial, maka kocar-kacirlah ekonomi keluarga... Kalau 50%, itu saja sudah sangat bagus.” Kata Mbah Ngatimin saat ditemui fasilitator di rumah beliau.
Sambil melirik sang istri yang duduk di sampingnya, Mbah Ngatimin melanjutkan, “kalau seluruh waktu dan tenaga didedikasikan untuk PNPM ya... bisa diomelin tuh...”
Hingga saat ini, belum ada satu orangpun yang bersedia menggantikan Mbah Ngatimin, baik sebagai ketua RT mauupun sekretaris BKM. Alhasil, Mbah Ngatimin telah menjalankan tanggung jawab sebagai ketua RT selama 41 tahun dan mengalami beberapa pergantian Kepala Kelurahan!!! Dan sebagai sekretaris BKM selama 8 tahun, seusia dengan keberadaan BKM “MEKARSARI” Kelurahan Pati Lor. Mulai dari P2KP hingga menjadi PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) hingga sekarang menjadi PNPM – Mandiir Perkotaan, Mbah Ngatimin tetap asyik dengan kegiatan sosial kemasyarakatannya. Ketika koordinator dan para anggota BKM telah berganti orang-orang yang berbeda selama beberapa periode, Mbah Ngatimin tetap setia dipercaya sebagai sekretaris BKM.
Luar biasanya lagi, semangat beliau tidak pernah padam. Mbah Ngatimin tetap bersahaja, humoris dan kehadiran beliau senantiasa bisa mencairkan suasana. Tak mengherankan bila para anggota BKM dan UP-UP yang sekarang berkantor tetap di kompleks Kantor Kelurahan Pati Lor, Jalan Penjawi ini akan senang bila ada Mbah Ngatimin di kantor BKM. Guyonan-guyonan segar Mbah Ngatimin sedikit banyak akan mengusir kejenuhan mereka saat menjalankan aktivitas di program pemberdayaan masyarakat ini.
Meskipun senantiasa berusaha menjaga semangat pengabdian di masyarakat, terkadang Mbah Ngatimin juga merasa jenuh dan tertekan. Bahkan terkadang muncul perasaan ingin meletakkan tanggung jawab sebagai ketua RT maupun sekretaris BKM. Biar dipegang oleh kaum muda saja. Namun, Mbah Ngatimin juga tidak bisa sepenuhnya meletakkan tanggung jawab yang telah diamanahkan warganya. Mbah Ngatimin tetap merasa bahwa itulah pengabdiannya untuk masyarakat, peninggalan yang kelak akan mereka kenang dengan indah, akan jasa-jasa dan pengorbanannya. Baik waktu, tenaga, pikiran, bahkan terkadang juga pengorbanan biaya. Untuk menghilangkan rasa jenuh dan tekanan tanggung jawab, Mbah Ngatimin sesekali memilih rehat sejenak dari aktivitas ke-BKM-an dan menenggelamkan diri di tambak. Atau sesekali berdiam diri di rumah bersama istri, sambil mendengarkan langgam Jawa kegeramaran beliau. Begitu rasa jenuh itu hilang, Mbah Ngatimin akan kembali beraktivitas sebagai tenaga sosial yang bersemangat.
Mbah Ngatimin bersama para anggota BKM dan UPK juga berperan besar terhadap keberadaan program reward ND (Neighborhood Development) yang saat ini diterima BKM “MEKARSARI” dari Pemerintah RI. BKM “MEKARSARI” berhasil mengakses dana ND sebesar Rp.1 Milliar yang akan digunakan untuk pembangunan lingkungan berbasis komunitas. Rencananya, dana ini akan digunakan untuk membangun city walk (Penjawi Night Market) di sepanjang jalan Penjawi, Kelurahan Pati Lor.
Saat ini, Mbah Ngatimin sangat berharap akan adanya regenerasi sekretaris BKM. Beliau sangat berharap ada tokoh pemuda yang tampil untuk menggantikan tanggung jawab beliau. Namun, hingga saat ini harapan beliau belum juga terjawab. Lebih tepatnya, belum ada pemuda yang berani menjawab tantangan beliau untuk menggantikan sosok Mbah Ngatimin memegang amanah sebagai sekretaris BKM sekelas BKM “MEKARSARI” Kelurahan Pati Lor. Entah sampai kapan. (akar_atya_Juni 2011).

Tulisan ini ditulis sebagai artikel Best Practice kegiatan Pemberdayaan Masyarakat (kategori sosok tokoh) dan ditayangkan di web pnpm-mp.

Selasa, 12 April 2011

Abraham Mencari Tuhan




Abraham adalah salah satu dari 25 nabi dan rasul Allah yang wajib kita ketahui. Abraham (Nabi Ibrahim As.) disebut juga sebagai bapak para nabi, sebab beliau menurunkan dua orang nabi dan rasul yang menjadi cikal bakal nabi-nabi dan rasul di dunia. Kedua putra Abraham yaitu Ismail (Ishmael) dan Ishak (Isaac). Ismail (putra sulung Abraham) menurunkan Nabi agung Muhammad SAW. Sedangkan Isaac menurunkan nabi-nabi bangsa Israel seperti Nabi Yakub (Jacob), Yusuf (Joseph), Harun, Musa (Moses), Daud (David), Sulaiman (Solomon) dan sebagainya hingga sampai pada Isa (Yesus).

Abraham sendiri terlahir pada suatu kaum yang semuanya menyembah berhala. Waktu itu berhala terbesar yang disembah oleh kaumnya bernama Baal, disamping berhala-berhala kecil lainnya. Bahkan ayah kandung Abraham sendiri adalah seorang pembuat patung berhala.


Usia tujuh tahun
Meskipun lahir di tengah kekufuran, namun Abraham telah dikaruniai kecerdasan yang luar biasa. Semenjak belia, dia sudah berpikir bahwa tidak mungkin patung-patung yang disembah ayah dan kaumnya adalah Tuhan. Oleh karenanya, Abraham berusaha memulai proses pencarian akan tuhannya sendiri. Pencarian Abraham akan tuhan dimulai pada waktu usianya baru tujuh tahun. Dia memulainya dengan bertanya pada sang ayah yang sedang membuat patung, “Ayah, siapakah yang menciptakan manusia?”

Ayahnya yang dungu menjawab, “yang menciptakan manusia adalah ayah dan ibunya. Aku yang telah membuatmu, dan ayahku yang telah membuatku, ayahnya ayahku yang telah membuat ayahku, begitu seterusnya.”

Abraham mengejar bertanya, “bukan seperti itu maksudku, Ayah. Sebab pada suatu hari aku pernah menyaksikan seorang kakek meratap-ratap sambil berseru: ‘Oh Tuhanku, mengapakah Engkau tak memberikan seorang puterapun kepadaku….”

Ayahnya menjawab, “itu benar Nak. Tuhan memang membantu manusia untuk membuat manusia, akan tetapi Dia tidak melibatkan diriNya dalam proses pembuatan manusia. Yang perlu dilakukan adalah seorang manusia yang memohon kepada Tuhan agar diberikan anak domba atau domba, lalu Tuhan akan menolongnya.”

“Kalau demikian ada berapa banyak Tuhan, Ayah?” Tanya Abraham.

“Tuhan itu tak terhitung jumlahnya, anakkku.” Jawab ayahnya.

“O ayah. Bagaimana kalau aku ingin mengabdi kepada satu tuhan, sedangkan tuhan yang lainnya akan membenciku karena aku tidak mengabdi kepadanya? Akan terjadi pertentangan-pertentangan antar-tuhan sehingga mungkin sekali di antara mereka akan saling berperang. Bisa juga terjadi, satu tuhan yang membenciku tersebut akan membunuh tuhanku, dan juga akan membunuhku. Bagaimana kalau itu terjadi?” Tanya Abraham lagi.

Ayahnya tertawa keras sekali mendengar pertanyaan anaknya. Lalu dia berkata, “tidak demikian anakku. Di antara tuhan-tuhan itu tidak akan saling bertentangan. Di dalam rumah ibadah, ada banyak sekali tuhan, yang terbesar adalah tuhan Baal dan sepanjang usiaku yang melewati tujuh puluh tahun ini, belum pernah satu kalipun aku melihat tuhan-tuhan saling bertengkar, apalagi berperang. Tentu saja, tidak seluruh manusia mengabdi kepada satu tuhan saja. Akan tetapi, satu manusia (mengabdi kepada) satu tuhan, sedangkan manusia lainnya mengabdi kepada tuhan yang lainnya. “

“Jadi ada perdamaian antara tuhan satu dengan tuhan lainnya?” Tanya Abraham lagi.

“Mereka berdamai satu sama lain.” Jawab ayahnya.

“Wahai ayah, seperti apa sih tuhan-tuhan itu?”

“Bodoh kau ini. Setiap hari aku membuat satu tuhan kemudian aku jual kepada orang-orang dan hasilnya untuk membeli rotimu, dan engkau masih bertanya seperti apa tuhan itu!” Jawab ayahnya yang sedang mengerjakan pembuatan sebuah patung. “Ini!” tunjuknya pada patung yang sedang dibuat. “Ini adalah tuhan (yang terbuat dari) kayu Palma. Yang itu dari kayu Zaitun, dan itu, itu yang kecil, itu adalah tuhan kayu Ivory. Lihatlah betapa bagus patung-patung itu, tampak sangat hidup. Hanya saja mereka tidak bernafas!”

“Jadi mereka tidak bernafas? Lalu dengan apa mereka bisa member nafas? Mereka juga tidak hidup. Lalu bagaimana mereka bisa memberikan kehidupan? Jadi ayah, bisa dipastikan bahwa mereka itu bukan Tuhan! (T capital).” Kata Abraham.

Orang tua itu gusar sekali mendengar penentangan dari anaknya yang masih kecil tersebut. “Jika saja sekarang kamu sudah dewasa, tentu aku remukkan kepalamu dengan kapak ini. Tapi tenanglah Nak, kau belum mengerti!”

Abraham terus mengejar, “ayah, kalau tuhan-tuhan itu yang menolong perbuatan manusia bagaimana mungkin manusia yang membuat mereka? Dan kalau tuhan terbuat dari kayu-kayu, bukankah dosa besar jika kita membakar kayu? Tolong jelaskan kepadaku ayah, selama ini ayah telah membuat begitu banyak tuhan, bagaimana mereka tidak membantu ayah membuat banyak anak, yang bisa ayah jadikan sebagai manusia-manusia paling kuat di bumi ini?”

Ayahnya beringsut duduk di samping Abraham sambil mendengarkan anaknya berkata-kata. Abraham kemudian bertanya lagi, “ayah, benarkan bumi ini untuk beberapa waktu lamanya tidak dihuni oleh manusia?”

Jawab ayahnya, “benar Nak. Dan mengapa?”

“Sebab…” jawab Abraham, “aku ingin tahu siapakah yang membuat Tuhan yang Pertama.”

“Sekarang, enyahlah engkau dari rumahku!” Bentak ayahnya dengan keras. “Dan biarkan aku melanjutkan membuat tuhan ini dengan cepat. Jangan berucap satu patah katapun lagi, karena jika kau lapar, kau membutuhkan roti dan bukan kata-kata!”

“Ayah, tuhan yang baik adalah ketika ayah memotong-motongnya sesuka hati ayah dan tuhan itu tidak bisa membela dirinya sendiri!” Ucap Abraham.

Kemarahan ayahnya benar-benar mendidih. “Semua orang di dunia ini mengatakan bahwa ini adalah tuhan, namun kamu anak gila mengatakan bahwa ini bukan tuhan. Demi tuhan (tuhan)ku seandainya saat ini kau adalah seorang laki-laki dewasa tentulah aku sudah membunuhmu!” Setelah itu sang ayah yang kalap melayangkan pukulan dan tinju bertubi-tubi kea rah Abraham, kemudian mengusirnya dari rumah.


Usia dua belas tahun
Ketika usia Abraham dua belas tahun, ayahnya berkata kepadanya, “besok adalah hari raya festival tuhan-tuhan. Kita harus pergi ke rumah ibadah pusat dan memberikan hadiah kepada tuhan Baal yang agung. Engkau harus memilih tuhanmu sendiri karena engkau sudah cukup umur untuk mempunyai tuhan.”

Abraham pura-pura patuh pada ayahnya dengan menjawab, “baik ayah. Aku akan menuruti nasihat ayah.”

Ketika keesokan harinya, Abraham dan ayahnya pergi pagi-pagi sekali ke rumah ibadah pusat, sebelum orang-orang lainnya berdatangan. Namun, Abraham dengan beraninya menyembunyikan sebuah kapak di balik baju tunic-nya. Sesampainya di rumah ibadah, Abraham segera menyelinap bersembunyi di belakang patung di pojok ruangan yang paling gelap. Orang-orang berdatangan dan rumah ibadah menjadi semakin ramai. Hingga acara pemujaan tuhan-tuhan selesai, Abraham memisahkan diri dengan ayahnya. Ayahnya tidak berusaha mencari puteranya sebab mengira Abraham telah pulang terlebih dahulu.

Setelah semua orang selesai dan pulang ke rumah masing-masing, para pendeta menutup rumah ibadah tanpa tahu bahwa Abraham masih berada di dalam. Kemudian Abraham keluar dari tempat persembunyiannya dan dengan kapak terhunus dia memotong-motong (semua) patung-patung kecil yang ada di rumah ibadah tersebut. Kemudian Abraham meletakkan kapak yang digunakannya tadi di bawah kaki patung Baal. Setelah itu, Abraham pergi meninggalkan rumah ibadah tersebut dalam keadaan hancur berantakan. Akan tetapi, kepergian Abraham dari rumah ibadah tersebut diketahui oleh beberapa orang yang menuduh Abraham mencuri dari rumah ibadah. Beramai-ramai mereka menangkap Abraham. Namun demi melihat tuhan-tuhan mereka telah hancur berserakan, mereka meratap-ratap dan berseru memanggil penduduk, “Wahai khalayak ramai, datanglah cepat kemari. Marilah kita bunuh dia yang telah menjagal tuhan-tuhan kita!”

Dengan cepat, berdatanganlah sekitar sepuluh ribu orang beserta para pendeta ke rumah ibadah tersebut. Mereka segera menghujani Abraham dengan berbagai pertanyaan tentang alasan penghancuran tuhan-tuhan.

Abraham berkata, “kalian ini manusia tolol. Mana mungkin manusia membunuh tuhan-tuhan? Tuhan yang agung itulah yang telah membunuh tuhan-tuhan yang lain karena dia tidak menyukai keberadaan mereka! Tidakkah kalian melihat bahwa kapak itu terletak di kakinya. Itu bukti bahwa tuhan Baal lah yang telah membunuh tuhan-tuhan lainnya.”

Mereka menjawab, “bagaimana mungkin patung yang tidak bisa bergerak bisa menghancurkan patung lainnya?”

“Kalau patung Baal yang agung tidak bisa melakukannya berarti dia bukanlah tuhan. Mana ada tuhan tidak mempunyai kekuasaan apa-apa untuk melakukan sesuatu yang dikehendakinya? Lalu mengapa masih kalian sembah juga?”

“Diam kau bocah. Kau belum tahu apa-apa tentang masalah ini! Atau tuhan kita akan murka kepadamu.”

“Sesungguhnya aku tidak takut terhadap tuhan yang tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan menjaga dirinya sendiri saja tidak bisa. Dia tidak akan mendatangkan keburukan apa-apa terhadapku.” Tantang Abraham. Penduduk semakin marah dan menuntut agar Abraham di hukum mati atas penghinaan yang dilakukan terhadap tuhan-tuhan mereka.
(Dalam Gospel Barnabas tidak diceritakan rinci mengenai perdebatan tentang hal ini, namun penulis melengkapinya sendiri)

Pada saat itulah, ayah Abraham datang dengan membawa ingatan segar mengenai pemikiran Abraham selama ini. Dia juga mengenali kapak yang digunakan untuk menghancurkan para tuhan. Dengan meratap dia berkata, “Duhai anakku yang durhaka telah menjagal tuhan-tuhan kita! Kapak yang digunakan itu adalah kapak milikku!” Lalu dia juga menceritakan semua pembicaraan antara dirinya dengan Abraham selama ini kepada para penduduk.

Berdasarkan hal tersebut, penduduk segera mengumpulkan kayu bakar dan membuat api unggun raksasa. Setelah api berkobar, mereka segera melemparkan Abraham ke dalam api.

Api menyala dengan dahsyat, bahkan sampai membakar dua ribu orang yang ikut membakar Abraham. Akan tetapi, Tuhan Yang Esa telah mengirimkan malaikatNya untuk menyelamatkan Abraham. Abraham selamat dan dibawa ke rumah ayahnya oleh malaikat, sedangkan Abraham sendiri tidak melihat siapa yang menyelamatkannya. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman pada sang api, “Qulna yaa naaru kuu nii barda wa salaaman ‘alaa Ibrahim (Wahai api, dinginlah, dan selamatkan Ibrahim) (Al-Qur’an Al-Anbiya: ayat 69)
Setelah berada di dekat rumah ayahnya, Abraham merasa takut untuk masuk ke dalam rumah. Dia kemudian memilih duduk di bawah pohon Palma sambil berpikir. Kemudian, begitu saja terlontar dari pikirannya dan dia berucap, “pastilah terdapat Tuhan yang memiliki kehidupan dan kekuatan yang melebihi manusia, karena dialah yang menciptakan manusia. Dan manusia tanpa keterlibatan Tuhan, tidak mungkin bisa menciptakan manusia.”

Abraham mengalihkan pandangannya ke angkasa dan dia melihat matahari yang bersinar terang. Abraham berkata, “inilah dia tuhan itu. Dia yang member sinar dan kehidupan pada seluruh makhluk yang ada di dunia ini.” Lalu Abraham menyembah matahari tersebut. Akan tetapi, ketika senja datang dan sang matahari yang semula dia sembah tenggelam di ufuk barat, Abraham menjadi kecewa. “Ternyata matahari bukanlah tuhan. Tidak mungkin tuhan tenggelam dan hilang begitu saja.”

Malampun tiba, dan Abraham menyaksikan sang rembulan yang sedang purnama bersinar begitu anggun memberi cahaya pada dunia. Abraham berpikir bahwa rembulan itulah tuhannya. Abraham menghormat ke arah sang rembulan. Namun, alangkah masygul hati Abraham saat datang awan berarak-arak dan kemudian menutupi sang rembulan hingga cahayanya menjadi pudar. Abraham berkata, “mana mungkin rembulan itu tuhan. Mestinya awan-awan tidak bisa menyembunyikanNya. Berarti, Tuhanku bukanlah rembulan. Lalu siapa?”

Sambil terus berpikir, Abraham melihat sebuah bintang paling besar yang bersinar paling terang di angkasa malam. Abraham melonjak girang, “ah, inilah dia tuhan itu.” Akan tetapi, kegirangan Abraham tidak berlangsung lama, sebab dilihatnya bintang itu bergerak menjauh dan kemudian tak tampak lagi dari pandangan matanya. Kembali Abraham bersedih hati. “Tidak mungkin rasanya Tuhan bergerak dan kemudian hilang begitu saja. Jika Tuhan seperti itu, tentulah manusia dan seluruh isi alam akan dibawa pada ketiadaan pula.”

Abraham terus diliputi kegelisahan. Dalam keadaan seperti itulah, tiba-tiba terdengar namanya dipanggil, “Abraham!” Abraham segera menoleh ke sekelilingnya, namun tak ada seorangpun yang dia jumpai. “Rasanya aku mendengar ada yang memanggil namaku, Abraham!” Peristiwa itu berulang sampai tiga kali, Abraham mendengar namanya dipanggil.

“Siapa yang memanggil namaku?” sahut Abraham.

“Aku adalah malaikat Tuhan, Gabriel (Jibril).” Jawab suara itu.
Abraham merasa sangat ketakutan saat itu. Namun, Gabriel berusaha menenangkannya dengan berkata, “Abraham, jangan takut. Karena engkau adalah kekasih Tuhan (Allah memberikan gelar khalily=kekasihKu kepada Abraham). Ketika engkau menghancurkan patung-patung di rumah ibadah itu, Tuhan para malaikat, nabi dan semesta raya telah memilihmu sebagai utusannya. Namamu telah tertulis di Kitab Kehidupan (Lauh Mahfudz).

Abraham menyahut, “Apa yang harus aku lakukan untuk melayani Tuhan alam semesta?”

Gabriel menjawab, “pergilah ke pancuran air dan sucikanlah dirimu karena Tuhan akan berbicara denganmu.”

Abraham bertanya, “bagaimana caranya aku menyucikan diriku?”
Lalu Gabriel menjelmakan dirinya menjadi seorang pemuda tampan dan memberikan contoh cara menyucikan diri kepada Abraham. Abraham menirukan apa yang dicontohkan oleh Gabriel.

Selesai menyucikan diri, Gabriel berkata, “sekarang mendakilah ke arah  gunung itu karena Tuhan akan berbicara denganmu di sana.” Abraham mengikuti instruksi dari Gabriel dan mendaki gunung tersebut. Di atas gunung, Abraham duduk di atas kedua lututnya, “kapankah Tuhan akan berbicara kepadaku?” Begitu Abraham selesai bergumam, dia mendengar ada suara memanggil namanya, “Abraham!”

“Siapa yang memanggil namaku?” Tanya Abraham.

“Aku Tuhanmu.”

Abraham menjadi ketakutan sekali dan membenamkan wajahnya di permukaan tanah sambil berkata, “betapa aku adalah hamba dan pelayanMu, yang berupa debu dan abu ini!”

Tuhan berfirman kepadanya, “Jangan takut, tetapi bangunlah,karena Aku telah memilihmu sebagai pelayanKu. Dan Aku akan memberkatimu dan membuat (anak cucu)mu bertambah banyak dan menjadi umat yang besar. Oleh karena itu, menyingkirlah dari rumah ayahmu dan rumah kerabatmu dan menetaplah di sebuah wilayah yang akan Aku berikan kepadamu dan kepada anak cucumu.

Abraham menjawab. ”Semua (perintahMu) akan aku turuti, Tuhan. Akan tetapi, bimbinglah aku agar tidak ada tuhan lain yang mencelakakanku.”

Tuhan berfirman, “Aku-lah satu-satunya Tuhan dan tidak ada tuhan lain selain Aku. Aku menghancurkan dan menciptakan segala sesuatu, Aku yang mematikan dan memberi kehidupan, Aku yang menjerumuskan ke neraka dan mengeluarkan dari neraka, dan tak ada satu-pun yang mampu menghindar dari jangkauan-Ku.

Setelah menerima firman Tuhan dan menjadi seorang utusan Tuhan (rasul), Abraham menerima perintah untuk berkhitan. Dengan demikian, mulai saat itu, Abraham telah menemukan Tuhannya dan Tuhan semesta raya (akar_atya).

(Diadaptasi oleh akar_atya dari Terjemah The Gospel of Barnabas)

Sumber pustaka:
1.       Al-Qur’anul Karim
2.       The Gospel Of Barnabas (Terjm. Achmad Kahfi). Surabaya: Bina Ilmu.




[1] Nabi Ibrahim As.

Seorang Musafir dan Oase-nya



Ada seorang musafir kehabisan bekal air minum di tengah perjalanannya. Saat itu dia di tengah gurun yang sedang terik-teriknya. Dia sangat kehausan. Suatu ketika dia menemukan sumber air (oase) di tengah gurun tersebut dan bisa ditebak bukan??? Dia minum sepuasnya. Kemudian datanglah musafir kedua yang dalam keadaan kepayahan karena lapar dan dahaga. Musafir ini lalu meminta izin pada musafir pertama untuk ikut minum. Namun, musafir pertama yang diliputi rasa takut akan kehausan lagi – melarangnya dan mengatakan bahwa oase itu adalah haknya. Musafir kedua pergi dengan merana oleh dahaga. 

Setelah puas minum dan oase mengering, tertutup pasir sedikit demi sedikit, musafir pertama melanjutkan perjalanannya. Ketika dia merasakan kehausan lagi, ia menyadari ada yang terlupa dilakukannya. Dia lupa membawa bekal air dari oase yang pernah ditemuinya. Musafir itu panik, lalu kembali melewati jalan yang sama, dia mencari-cari kembali oase yang telah ditinggalkannya. Tapi sebesar apapun dia berusaha, oase itu telah tak ada. Bisa jadi tertutup pasir yang tertiup angin gurun. Musafir itu, sangat menyesali kedunguan yang dilakukannya. Ia mengira perbuatannya – menolak musafir kedua yang datang meminta izin untuk ikut minum – adalah baik bagi hidupnya. Dia berjalan sempoyongan tak tahu lagi arah. Dari kejauhan dilihatnya ada yang berkilau. Hatinya girang. “Ah, oase lagi…” Tapi apa yang dilihatnya itu telah menipunya. Bukan oase yang ditemukannya. Hanya fatamorgana. Alam menipunya.

Kamudian dilihatnya ada yang terbujur tidak jauh dari dirinya. Sosok tubuh. Musafir seperti diriku mungkin. Oh Tuhan, dia musafir yang meminta azin untuk minum bersamaku waktu itu. Andai saja …

Apa yang akan kita ucapkan jika kita adalah musafir malang tersebut? Barangkali: Andai saja waktu itu aku berbaik hati membagi air minum untuknya. Dia belum mati saat ini dan bisa kumintai tolong atau Andai saja waktu itu dia ikut minum bersamaku, dia belum mati dan kami bisa menjadi sahabat melalui gurun ini atau Andai saja waktu itu kuizinkan dia minum bersamaku dan tidak lupa mengambil bekal air, mungkin saat ini dia masih mempunyai persediaan air minum dan aku bisa meminta darinya. Dan Andai … Andai … banyak sekali Andai ….

Kita semua adalah musafir. Kadang kita kehausan, lalu menemukan oase. Minum dan dahaga hilang. Kambali kehausan. Begitulah. Alangkah baiknya bila kita bisa berbagi saat kita dalam keadaan tidak kekurangan, barangkali suatu saat akan ada orang lain yang sudi meringankan kesusahan kita. Patutkah kesombongan menguasai hati, bahwa saat berada dalam kebahagiaan kita tidak akan pernah menderita kenestapaan. Bahwa saat berada di puncak kejayaan kita tidak akan pernah jatuh ke dalam jurang kehancuran. Bahwa saat kita merasa memiliki sumber air yang melimpah, kita tidak akan pernah merasakan sangat kehausan??? Tapi, inilah diri kita bukan. Melupakan hal-hal penting yang seharusnya tak perlu kita ingat pun akan selalu teringat.

Ah, jadi ingat akan sejati. Sejati yang entah sudah, pernah atau belum kutemukan. Sejati yang sedang kutuju. Dan entah kenapa aku juga begitu yakin bahwa sejati menjadi tujuan hidup setiap manusia. Hanya, barangkali ada yang tengah terlupa setelah separuh jalan, dan “mencoba mencari tujuan” yang lain, yang sejatinya bukan tujuannya. Dunia memang begitu aneh. Semakin aneh – sebab kesombongannya. Ataukah sombong hanya patut untuk hati manusia. Yang jelas, dunia pastilah bukan sejati, tapi lalu dimana sejati? Dapatkah semua dari kita mencapainya??? (By akar_atya. dalam Novel Malaika Humaira, Jogjakarta 2008)